Apa Kata Mereka?

PERMAINAN TRADISIONAL ANAK MULAI PUNAH 
"Sudah saatnya orang tua untuk kembali mengajarkan aneka permainan anak tradisional itu kepada anaknya. Karena selain lebih mendidik, aneka permainan tradisional itu juga lebih murah biayanya"  - Ichwan (Ketua program studi antropologi sosial pascasarjana Universitas Medan) - 

Berbagai jenis permainan anak tradisional yang banyak tersebar diberbagai daerah di Sumut maupun daerah lainnya di Indonesia terancam punah karena tidak ada lagi yang memainkannya.

Antropolog Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr. Phil Icwan Azhari, di Medan, Senin, mengatakan, dewasa ini permainan anak tradisional seperti patok lele, congkak, galasing, engklek, sambar elang dan enggrang, sudah tergantikan oleh permainan yang lebih modern seperti video games maupun bombom car.

Padahal, katanya, aneka permainan tradisional tersebut memiliki cukup banyak keunggulan yang tidak didapat pada permainan modren, seperti tumbuhnya rasa solidaritas atau kesetiakawanan, rasa empati kepada sesama, keakraban dengan alam dan selalu menjunjung nilai-nilai sportivitas.

Selain itu sisi positif lainnya yang dapat diperoleh dari aneka permainan tradisional tersebut adalah memungkinkan timbulnya inisiatif, kreatifitas anak untuk menciptakan dan inovasi untuk memproduksi sendiri.

"Dengan munculnya daya kreatifitas itu, sianak kemudian akan mencoba mencari desain baru dan mengadaptasi permainan yang mereka butuhkan," kata Ichwan yang juga Ketua Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Unimed. 

Menurut dia, aneka permainan anak tradisional itu juga akan  menjauhkan anak dari sikap konsumtif, menampilkan kegembiraan, gerak tubuh yang ekspressif, disamping juga melatih tingkat kecerdasan dan logikanya.

"Misalnya saja pada permainan Galasing yang harus dimainkan oleh minimal empat orang untuk satu grup. Keempat orang ini akan bahu-membahu mengalahkan lawannya agar jangan sampai melewati daerah yang dijaganya," katanya.

Berbeda halnya dengan permainan anak modern yang semuanya diproduksi oleh pabrik secara massal, sehingga kreatifitas anak untuk menciptakan sendiri permainannya menjadi hilang dan rata-rata permainan modern itu dimainkan oleh satu orang saja. Akibatnya si anak akan asyik dengan dirinya sendiri saja tanpa peduli dengan teman-teman sebaya dan lingkungannya.

Menurut Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed itu,  permainan modren cenderung akan menjadikan anak individualis dan berbasis materi. Anak setiap saat akan meminta uang untuk membeli alat permainannya. Karenanya permainan modren potensial menjadikan anak sebagai generasi yang hanya menuntut, meminta, kurang usaha, tidak inovatif dan tidak kreatif, untuk memproduksi dan mereproduksi apa yang dibutuhkannya.

"Sudah saatnya orang tua untuk kembali mengajarkan aneka permainan anak tradisional itu kepada anaknya. Karena selain lebih mendidik, aneka permainan tradisional itu juga lebih murah biayanya," katanya (dbc)

sumber : kompas.com